Sunday, January 9, 2011

Alquran di Eropa


Yusra Habib Abdul Gani

KISAH pasukan Tariq Ibn Ziyad mengalahkan pasukan Visigoth hingga berjaya menguasai Andalusia, Cordova, dan Toledo di Spanyol dan riwayat pasukan Aburrahman bin Abdullah Al-Ghafiqi yang merambah masuk menguasai wilayah Piranee, Bordeau, Poitiers, Tours, Zaragoza dan Leon di Perancis, semasa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz, telah menghiasi lembaran sejarah kegemilangan Islam dan seiring dengannya, Alquran bergema di Eropa.

Ini berarti, sejak itulah sebagian bumi Eropa dikuasai oleh pemerintahan Bani Umayyah, yang berpusat di Damsyik (periode 718-756M). Wilayah berdaulat Bani Umayyah pada saat itu meliputi: Spanyol, Afrika Utara, Syria, Palestina, Jazirah Arabia, Irak, sebagian Asia Kecil, Persia, Afganistan, Pakistan, Purkmenia, Uzbek, dan Kirgis di Asia Tengah.

Gerakan penerjemahan ilmu pengetahuan umum, seperti: astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, farmasi, biologi, fisika dan sejarah, digagas khalifah Al-Mansur (745-775M), diteruskan Harun Al-Rasyid, bahkan dalam pemerintahan Abdul Malik (685-705M), buat pertama sekali memerintahkan supaya bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa resmi administrasi pemerintahan dan bahasa persatuan. Jadi, tidak mengherakan kalau Oliver Leaman berkata, “Islam di Spanyol punya reputasi selama ratusan tahun dan menduduki puncak tertinggi dalam pengetahuan filsafat, sains, tehnik dan matematika. Ini mirip seperti posisi Amerika sekarang, dimana beberapa universitas penting berada. Siapapun di Eropa yang ingin mengetahui sesuatu yang ilmiah, mesti pergi ke Andalusia.”

Keberhasilan ini merupakan mata rantai dari kemajuan peradaban dunia Islam sejak masa Rasulullah saw (622-632M); Khulafatur-rasyidin (632-661M); daulat Umayyah (661-750M) dan daulat Abbasiyah (750-1258M), yang ketika berada di puncak kejayaan selama kurang lebih 700 tahun. Untuk itu, patut Dr. Gustave Le Bone berkata, “Dalam satu abad atau 3 keturunan, tidak ada bangsa-bangsa manusia dapat mengadakan perubahan yang berarti. Bangsa Perancis memerlukan 30 keturunan atau 1000 tahun baru dapat mengubah suatu masyarakat yang berteras Perancis. Hal ini terjadi bagi seluruh bangsa dan umat, terkecuali umat Islam, sebab Nabi Muhammad ternyata mampu menciptakan suatu masyarakat baru dalam tempo satu keturunan (23 tahun) yang tidak dapat ditiru atau dilakukan oleh orang lain.”

Dalam rentang masa daulat Umayyah dan Abbasiyah-lah muncul tokoh-tokoh pemikir seperti: Ibnu Sina, Ibn Rush dan Al-Farabi yang berpusat di Cordova, Palermo, Nisyapur, Kairo, Baghdad, Damaskus dan Bukhara. Pemikiran mereka telah mengungguli pemikir Eropa yang tenggelam selama beberapa abad. Untunglah Robertus Ketenensis bangkit, dibantu oleh Petrus Venerabilis untuk menerjemahkan Alquran ke dalam bahasa Latin pada tahun 1143 dan Ibn Rush adalah di antara pemikir Islam unggul pada saat itu menjadi idola mereka, oleh sebab menguasai beberapa disiplin ilmu pengetahuan, seperti: filsafah Islam, Ilmu kedokteran, Mathematik, astronomi, grammar, theology Islam, Shari’ah dan Fiqh, yang sejak tahun 1160 mengabdi di Seville, Cordova dan Marocco. Beliau memulai karirnya dengan membantu Ibn Tafail menyelesikan Novel ‘Hayy ibn Yaqdhan’ juga menulis soal perobatan dalam Kitab ‘Al-Kulyat fi al-Tibb’, yang mendapat inspirasi dari Kitab ‘Al-Taisir fi al-Mudawat wa al-Tadbir.

Debat teologi antara Ramon Cull (1316) versus Ibn Rush (1126-December 10, 1198) atau Averroes, yang dijuluki Alain de Libera dalam “Averroès et l’averroïsme” sebagai bapak pemikir sekuler dan salah seorang bapak sepiritual Eropa, telah merangsang pemikir teologi Eropa. Ini pasalnya Jacob Anatoli, bergairah menerjemahkan beberapa karya Ibn Rush dari bahasa Arab ke dalam bahasa Ibrani (Hebrew) pada dekade abad ke-13 dan diterjemahkan dari bahasa Ibrani kedalam bahasa latin oleh Jacob Mantino, Abraham de Balmes dan Juntine, diterbitkan di Venice tahun 1562-1574. Di mata Eropa, Ibn Rush (Averroes) semakin menarik dengan ucapannya, “tidak terdapat konflik antara agama dan falsafah. Keduanya dinilai sebagai istrument untuk melengkapi pemahaman dalam mencari kebenaran.”

Sewaktu Khalifah Utsmaniyah Turki bangkit sebagai penerus (successor) kegemilangan Islam, kaum teolog Eropa terus meneliti masalah Islam (Quran), seperti Luther menulis “Des paster und Türken Mord” dan Daniel menulis “Melanchthon Muhammad”. Alquran terus mendapat perhatian, walaupun Luther pernah keliru berkata, Islam adalah “Türkish religion”. Maka muncullah Alquran versi bahasa Latin, dicetak di Basel tahun 1543 setelah 400 tahun terhenti, sementara di Itali Alquran dicetak tahun 1547, di Jerman tahun 1616 dan di Belanda tahun 1641.

Bagaimanapun, Paus Alexander VII telah memberi arahan, supaya tidak mempublikasikan terjemahan Quran, namun demikian tetap juga dicetak edisi ke-4 di Hamburg oleh Pendeta Hinckelemann tahun 1694, dicetak lagi di Maracci tahun 1698 dengan penyelipan uraian-uraian penting yang disadur dalam “Prodromus and refutation Alquran”.

Memasuki abad ke-15, Nicolas Cusanus dalam “Sifting of the Qur’an” mengulas agak lebih rinci, terutama hal-hal yang berkaitan dengan konsep perluasan wilayah kuasa Khalifah Oesmaniyah, yang juga meng-identik-kan Islam sebagai “Turkish Religion”. Studi tentang Islam semakin mencuat ke permukaan di abad ke-16, di mana W. Postel (1581) dan Scaliger-keduanya dikenal lebih berpandangan liberal- berupaya menguraikan konsep “Hijrah” dalam “De emendatione temporum”. Kajian ini menjadi bahan studi di Belanda dan buat pertama sekali diedit teks klassik, khususnya mengenai “Sunnah”.

200 tahun kemudian, diterbitkan grammer bahasa Arab oleh Golius tahun 1667, disebarkan sampai ke Hotitinger, Swissland dan diulas lebih mendalam lagi dalam “Historia Orientalist”. E.Pocock menyorot dari segi lain dalam “Specimen Historia Arabun” tahun 1671, dengan menghadirkan karya-karya Ibn Tufail seperti “Hayy Ibn yaqzan, philosofus Autodidactus” dan Bartholoni D’ Herbelot yang tekun menyusun Encyclopedia “Biblioteque Orientalé” Islam.

Pemikiran teologi Islam di Eropa semakin semarak, setelah Boulainvilliers menulis tentang Islam dan H. Reland yang menulis “De religione Muhammadanica”, yang diterjemahkan oleh Gragner tahun 1723. S. Sale menerjemahkan quran tahun 1734. Penjelasan penting dalam “Preliminary discource” ditulis oleh D.F. Megerlin dan F.E Boysen tahun 1773.

Walaupun Samuel Zwemer’s, dalam: “Islam: A challenger to faith” (1908) masih trauma dengan kehadiran Islam di Eropa. Katanya: “The man must shut his eyes to the broadest and must conspicuous fact of the history of Islam who denies that the sword has been the greatest of progating his religion.”, tapi konsep keadilan, kejujuran, penegakan hukum dan premis ilmu pengetahuan dalam Quran, dalam realitasnya tetap menjadi referensi penting dan diakui bahwa literatur-literatur tentang Islam terlengkap tidak berada di dunia Muslim, melainkan di perpustakaan-perpustakaan di Eropa.

Akhirnya, kemunduran umat Islam dalam berbagai bidang disiplin ilmu pengetahuan modern, antara lain disebabkan melemahnya penguasaan spesialisasi keilmuan, minimnya terjemahan karya-karya ilmiah, referensi yang tidak memadai dan silabus pendidikan “out of date”. Penguasalah yang bertanggungjawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kita ketinggalan kereta, tapi harapan masih ada dalam otak orang yang bermental optimis.

Artikel Terkait